Determinan matriks A dideļ¬nisikan sebagai selisih antara perkalian elemen-elemen pada diagonal utama dengan perkalian elemen-elemen pada diagonal sekunder.
Determinan dari matriks A dinotasikan dengan det A atau |A|.
Nilai dari determinan suatu matriks berupa bilangan real.
Deterninan Matriks Persegi
Determinan
untuk setiap matriks persegi A dapat menentukan tepat satu bilangan real yang
diperoleh dengan aturan tertentu terhadap unsur-unsur di A. Untuk setiap matriks bujur sangkar A terdapat nilai karakteristi yang
dikenal sebagai determinan, biasa
ditulis det (A) atau
Determinan matriks A ditulis sebagai
Determinan matriks ordo 2 x 2
Matriks berordo 2 × 2 yang terdiri atas dua baris
dan dua kolom. Pada bagian ini akan dibahas determinan dari suatu matriks
berordo 2 × 2. Misalkan A adalah matriks persegi ordo 2 × 2 dengan
bentuk
Determinan matriks A di
definisikan sebagai selisih antara perkalian elemen-elemen pada diagonal utama
dengan perkalian elemen-elemen pada diagonal sekunder. Determinan dari matriks A
dinotasikan dengan det A atau |A|. Nilai dari determinan
suatu matriks berupa bilangan real.
Berdasarkan definisi determinan suatu matriks, Anda
bisa mencari nilai determinan dari matriks A, yaitu:
Contoh
Determinan matriks ordo 3 x 3
Pada bagian ini, Anda akan
mempelajari determinan mariks berordo 3 × 3.
Misalkan A matriks persegi
berordo 3 × 3 dengan bentuk
Determinan
dari Matriks diatas adalah
Jika dalam suatu
permutasi ( susunan ) bilangan-bilangan yang lebih besar terletak di depan
bilangan yang lebih kecil, maka permutasi itu disebut mempunyai inversi. Hasil kali susunan
bilangan-bilangan dalam determinan A yang bertanda negatif apabila permutasi
dari bilangan mempunyai banyak inversi ganjil, dan bertanda positif apabila
permutasi mempunyai inversi nol atau genap.
Misalnya, permutasi dari 3 bilangan { 1 , 2 , 3 } yaitu :
123 , 132 , 213 , 231 , 312 , 321
·Inversi dari 123 adalah 0, maka tanda perkaliannya “+”
·Inversi dari 132 adalah 1, yaitu 32,maka tanda perkaliannya “-“
·Inversi dari 213 adalah 1, yaitu 21,maka tanda perkaliannya “-“
·Inversi dari 231 adalah 2, yaitu 21 dan 31,maka tanda perkaliannya “+“
·Inversi dari 312 adalah 2, yaitu 31 dan 32,maka tanda perkaliannya “+“
·Inversi dari 321 adalah 3, yaitu 32, 21 dan 31,maka tanda perkaliannya “-“
Untuk merupakan
determinan dari matriks A ordo Perkalian susunan bilangan-bilangan disesuaikan
dengan permutasi n = 3 unsur yaitu :
artinya perkalian anggota-anggota pada baris pertama kolom ke-2 ; baris kedua
kolom ke-3 dan pada baris ketiga kolom ke-1
Determinan
ordo 3 juga dapat diselesaikan dengan cara SARRUS
: Adapun langkah-langkah yang harus
di lakukan untuk mencari determinan matriks berordo 3 × 3 dengan metode
Sarrus adalah sebagai berikut: 1. Salin kembali kolom pertama dan kolom kedua matriks A
di sebelah kanan tanda determinan. 2. Hitunglah jumlah hasil kali elemen-elemen pada
diagonal utama dan diagonal lain yang sejajar dengan
diagonal utama (lihat gambar). Nyatakan jumlah hasil kali tersebut dengan Du. 3. Hitunglah
jumlah hasil kali elemen-elemen pada diagonal sekunder dan diagonal lain yang
sejajar dengan diagonal sekunder (lihar gambar). Nyatakan jumlah hasil harga
tersebut dengan Ds.
4. Sesuai dengan definisi determinan matriks maka
determinan dari matriks A adalah selisih antara Du dan Ds yaitu
Du – Ds.
atau
Contoh soal : Soal 1 Tentukan
determinan matriks Pembahasan Det A = 2.2.3 +1.1.5 +4.4.1-5.2.4 - 1.1.2 - 3.4.1=12 +5+16-40-2-12=-21 Soal 2 Diketahui
matriks A= Hitunglah nilai-nilai a yang memenuhi
det A = 0. Pembahasan Oleh karena det (A)=0, maka Jadi nilai a yang memenuhi adalah 2 dan 3 Soal 3 Diketahui
matriks A = Tentukan
nilai determinan matriks A Pembahasan Jadi, nilai determinan matriks A adalah 21. Soal 4 Hitunglah a. det (A) b. det (B) Pembahasan Dengan metode sarrus det (B) ordo 3 x 3 dapat diselesaikan
Sifat-sifat
Determinan
1. Nilai determinan tidak berubah apabila
baris dan kolomnya dipertukarkan. Jadi,
2. Jika semua unsur dari suatu baris (atau
kolom) adalah nol, determinan matriks itu sama dengan nol. 3. Jika semua unsur suatu baris (atau
kolom) adalah nol, kecuali satu unsur, determinannya sama dengan hasil kali
unsur itu dengan kofaktornya. 4.Pertukaran baris atau dua kolom
sembarang akan mengubah tanda determinan. 5. Jika semua unsur suatu(baris atau kolom) dikalikan dengan sebuah bilangan, determinannya juga dikalikan dengan
bilangan itu.
6. Jika dua baris (atau kolom) sama atau
sebanding, determinannya sama dengan nol.
7. Jika setiap unsur dalam suatu baris (atau
kolom) sebuah determinan merupakan jumlah dua suku, determinannya dapat
dinyatakan sebagai jumlah dua determinan yang berukuran sama.
8. Jika kita mengalikan unsur-unsur suatu
baris (atau kolom) dengan sebuah bilangan kemudian dijumlahkan dengan
unsur-unsur yang bersesuaian dengan suatu baris (atau kolom) yang lain, nilai
determinannya tetap.
9.Jika A dan B dua matriks bujur sangkar yang berukuran sama, maka
det (A ± B) = det(A) ± det(B)
10Jika
A dan B dua matriks bujur sangkar yang berukuran sama, maka
11. Jika A dan B dua matriks bujur sangkar yang berukuran sama, maka
det(AB)
= det(A) ´ det(B)
12. Jumlah
dari hasil kali unsur-unsur dalam suatu baris (atau kolom) dengan
kofaktor-kofaktornya dari baris (atau kolom) lainnya adalah nol. Secara
matematis,
Pada pembahasan sebelumnya telah dipelajari tentang persamaan dan pertidaksamaan eksponen yang pastinya memuat dasar-dasar bilangan berpangkat. Bilangan berpangkat adalah dasar utama dari logaritma. Logaritma merupakan kebalikan dari eksponen yang sebelumnya telah dipelajari. Mudahnya adalah jika pada eksponen kamu disuruh mencari hasil pangkat, maka di logaritma kamu disuruh mencari besarnya pangkat. Contoh :
1. Jika 32 = 9, maka dalam bentuk logaritma akan menjadi 3log 9 = 2
2. Jika 23 = 8, maka dalam bentuk logaritma akan menjadi 2log 8 = 3
3. Jika 53 = 125, maka dalam bentuk logaritma akan menjadi 5log 125 = 3
Bentuk umum dari bilangan berpangkat adalah an, dimana a dinamakan bilangan pokok dan n dinamakan pangkat. Sebagai contoh : 23= 8 16½ = 4 Tetapi jika persoalannya dibalik, misalnya 32= 9 berapakah nilai x ? 25y = 5 berapakah nilai y ? Untuk persoalan diatas tentu mudah ditebak bahwa x = 2 dan y = 1/2. Namun untuk masalah yang lebih rumit nilai x dan y dapat ditentukan dengan aturan logaritma, yaitu Misalkan b adalah bilangan positip dan a adalah bilangan positip yang tidak sama dengan 1, maka:
Jika ba = c, maka blog c = a
Dimana a dinamakan bilangan pokok atau basis b dinamakan numerus dan c adalah hasil logaritma. Jika a = e (e = 2,7128…) maka elog b ditulis ln b (dibaca: logaritma natural dari b), yaitu logaritma dengan bilangan pokok e
Contoh soal :
Ubah bentuk pangkat pada soal-soal berikut menjadi bentuk logaritma: a) 23 = 8 b) 54 = 625 c) 72 = 49
Transformasi bentuk pangkat ke bentuk logaritma:
Jika ba = c, maka blog c = a
a) 23 = 8 → 2log 8 = 3 b) 54 = 625 → 5log 625 = 4 c) 72 = 49 → 7log 49 = 2
Sifat-sifat Logaritma
Terdapat sembilan sifat-sifat dasar logaritma, yaitu :
Sifat 1
Jika a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1, maka
Sifat 2
Jika p dan q adalah bilangan real positip dan a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1, maka
Contoh soal :
Sifat 3
Jika p dan q adalah bilangan real positip dan a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1, maka
Untuk lebih jelasnya ikutilah contoh soal berikut ini :
Contoh soal :
Hitunglah nilai dari:
(a) log 60 + log 5 – log 3
(b) 2log 8 + 2log 16 – 2log 4
(c) log 16 – log 2 + log 125
Pembahasan
(a) log 60 + log 5 – log 3
=log 60.5:3
=log100
= log 102
=2
(b) 2log 8 + 2log 16 – 2log 4
=2log 8 . 16 : 4
=2log 32
=5
(c) log 16 – log 2 + log 125
=log 16 : 2 . 125
=log 1000
=3
Sifat 4
Jika p adalah bilangan real positip dan a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1serta n adalah bilangan real sembarang, maka
Untuk lebih jelasnya ikutilah contoh soal berikut ini:
Contoh soal :
Tentukan nilai dari: a) 2log 8 + 3log 9 + 5log 125 b) 2log 1/8 + 3log 1/9 + 5log 1/125
2 m log 2 + n log 2 + log 2 2log 90 =_________________________________________ = 2 m + n + 1 log 2
Sifat 6 Jika a dan b adalah bilangan real yang tidak sama dengan 1, maka Sifat 7 Jika c adalah bilangan real positip serta a dan b adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1, maka Untuk lebih jelasnya ikutilah contoh soal berikut ini : Contoh soal : Hitunglah setiap logaritma berikut ini (a) 2log 8 . 8log 64 (b) 3log 5 . 8log 27 . 5log 8 Pembahasan (a) 2log 8 . 8log 64 =2log 8 . 8log 26 =2log 26 =6. 2log 2 =6.1 =6 (b)3log 5 . 8log 27 . 5log 8 = 3log 5 .5log 8.8log 33 = 3log 33
=3 . 3log 3 =3.1 =3
Sifat 8 Jika b adalah bilangan real positip dan a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1 serta n dan m adalah bilangan real sembarang, maka
Untuk lebih jelasnya ikutilah contoh soal berikut ini :
Contoh soal :
Soal 1
Tentukan nilai dari a) 4log 8 + 27log 9 b) 8log 4 + 27log 1/9
Soal 2 Tentukan nilai dari: a) √2log 8 b) √3log 27
Pembahasan a) √2log 8 = 21/2log 23
= 3/0,5 2log 2
= 3/0,5 .1
= 6
b) √3log 9 = 31/2log 32
= 2/0,5 3log 3
= 2/0,5 .1
= 4
Sifat 9 Jika b adalah bilangan real positip serta a adalah bilangan real positip yang tidak sama dengan 1, maka
Contoh soal :
Sederhanakanlah
Soal-soal logaritma
Soal 1
Diketahui 2log √ (12 x + 4) = 3. Tentukan nilai x
Pembahasan 2log √ (12 x + 4) = 3
Ruas kiri bentuknya log, ruas kanan belum bentuk log, ubah dulu ruas kanan agar jadi bentuk log. Ingat 3 itu sama juga dengan 2log 23 . Ingat rumus alog ab = b jadi
2log √( 12 x + 4) = 2log 23
Kiri kanan sudah bentuk log dengan basis yang sama-sama dua, hingga tinggal menyamakan yang di dalam log kiri-kanan atau coret aja lognya:
2log√( 12 x + 4) = 2log 23
√( 12 x + 4) = 23
√( 12 x + 4) = 8
Agar hilang akarnya, kuadratkan kiri, kuadratkan kanan. Yang kiri jadi hilang akarnya:
12 x + 4 = 82 12x + 4 = 64 12 x = 60 x = 60/12 = 5